You are here:  
Article

CALLING : More Than Just A Dream

Print PDF

Melalui buku ini, Anda akan ditolong untuk melihat hubungan antara panggilan dengan mimpi/impian, dan mengapa panggilan lebih daripada impian. Buku ini juga akan mengembalikan Anda kepada prinsip-prinsip hidup yang hakiki yang membuat Anda lebih bergairah dalam menjalani hidup, sehingga bisa bekerja dengan lebih produktif.

Apa yang dituliskan di dalam buku ini telah mengubah saya terlebih dahulu, maka berhati-hatilah! Karena isi buku ini pasti juga mengubah hidup Anda!

Anda sebaiknya membaca buku ini secara perlahan-lahan. Bacalah bab demi bab dengan menggunakan hati, bukan hanya logika. Anda yang memutuskan sejauh mana Anda mau berubah setelah membaca buku ini, mulai dari pola pikir (head), motivasi (heart), atau sampai kepada tindakan (hand).

Selamat menemukan dan menghidupi panggilan hidup Anda! Harga yang Anda bayar akan sepadan dengan apa yang Anda peroleh. Anda akan mampu melihat betapa indah dan sederhananya hidup ini. Anda akan menjadi orang-orang yang optimis dan berani membawa perubahan. Tidak ada seorang pun yang dapat menghentikan Anda, kecuali Tuhan.

Anda berubah, keluarga berubah, masyarakat berubah, negara berubah, dan dunia berubah.

 

Daftar Isi

  • Endorsement
  • Ucapan Terima Kasih
  • Daftar Isi
  • Pendahuluan
  • 1 – Calling
  • 2 – Myths VS Facts of Calling
  • 3 – Level of Calling
  • 4 – Discovering Your Calling
  • 5 – Starting Your Calling
  • 6 – Living Your Calling
  • 7 – Finishing Your Calling
  • 8 – Men in Calling
  • Lampiran
  • Profil Penulis
  • Daftar Pustaka

 

 

TESTIMONI

Saya selalu percaya bahwa keberhasilan perusahaan diukur bukan hanya dari pencapaian laba, tetapi dari sejauh apa misi atau alasan keberadaan perusahaan itu berhasil dipenuhi. Demikian juga dengan seorang individu, keberhasilannya diukur bukan oleh kekayaan atau ketenaran dunia, tetapi oleh kemampuannya memenuhi misi pribadinya; inilah kunci kesuksesan sejati.

Buku ini memberikan jawaban yang lugas atas pertanyaan ini: Apa yang menjadi misi sesuai panggilan hidup saya dan bagaimana saya memenuhi misi tersebut? Buku yang ringkas, namun padat, dan mencerahkan bagi mereka yang mencari kesuksesan yang sesungguhnya dalam hidup ini.”

Suwardi Luis, B.Psy., MBA
Managing Director PT. GML, Performance Consulting dan Penulis Buku


Buku ini bukan hanya akan membuka paradigma baru tentang arti sebuah panggilan, namun juga akan membuat kita mengalami proses pencarian CALLING itu. Menarik, dan benar-benar harus menjadi pegangan bagi siapa yang menantang hidupnya ke level yang lebih tinggi.

Soegeanto ‘FUN MASTER’
Penulis buku best seller MASTER 18.

 

Calling: More Than Just a Dream menembus berbagai dimensi keyakinan dan berlaku universal. Buku ini disajikan cukup sederhana tapi penuh makna, justru mampu menembus berbagai kalangan, dan menjadi kebutuhan baik pengusaha, praktisi, akademisi, mahasiswa, pelajar bahkan ibu rumah tangga. Buku ini mampu menyadarkan dan membangunkan kita terhadap posisi level of calling kita saat ini. Saya sangat yakin buku ini akan menjadi kebutuhan dan inspirasi bagi banyak orang itu sendiri.

CALLING adalah perintah, bukan undangan….!

Jahmada Girsang, S.H.
Praktisi Hukum (Advokat/Pengacara)

 

Dalam setiap pengarahan saya kepada para karyawan baru di perusahaan, pesan yang tidak pernah saya lupa sampaikan adalah bekerjalah dengan totalitas, karena bekerja itu adalah belajar yang dibayar. Bekerja juga merupakan salah satu stimulan agar mereka dapat bekerja dengan sepenuh hati, dan menghasilkan suatu capaian yang lebih dari yang biasa-biasa saja.
Rupanya itulah yang dalam buku ini disebut CALLING. Buku ini membahas secara runtut dan komprehensif bagaimana memenuhi CALLING tersebut, disertai contoh-contoh praktikal sehingga enak dibaca dan mudah dimengerti. Semoga buku ini akan dapat mengubah banyak orang demi dunia yang lebih baik.

Willy Suwandi Dharma
President dan CEO PT. Adira Dinamika Multi Finance Tbk.

 

Two thumbs up! Untuk buku Calling: More Than Just A Dream ini.
Rasanya tidak sia-sia kalau Seng Cuan mengatakan dirinya betul-betul ‘terpanggil’ untuk bicara soal ‘panggilan.’ Dengan membaca kata demi katanya, Anda bisa melihat bagaimana passion yang diungkapkan oleh rekan saya, Seng Cuan melalui buku ini. Buku ini sangat sederhana. Walaupun sederhana, tapi bukan berarti sepele. Justru pembahasannya yang sederhana, tajam dan memotivasi, membuat Anda bisa membaca buku ini dengan ‘damai’ (seperti yang disarankannya di bagian pengantar). Saya menyukai konsep, pemaparan, kuesioner hingga piramida panggilan yang dijelaskan dengan gamblang di dalam buku ini!

Sungguh buku yang layak dikoleksi!

Anthony Dio Martin
“Best EQ trainer Indonesia,” Direktur HR Excellency, ahli psikologi, speaker, penulis buku-buku best seller, Host Program Smart Emotion di radio SmartFM Jakarta, pengasuh rubrik Motivasi di harian Bisnis Indonesia (www.hrexcellency.com)

 

Ini salah satu buku terpenting dalam dunia pengembangan diri. Buku ini memberi dasar-dasar yang kokoh bagi upaya pencapaian visi, misi, dan tujuan-tujuan hidup kita. Siapa pun yang berhasil mengetahui panggilan hidup, semisal melalui buku ini, ia akan memiliki energi dan daya tahan luar biasa dalam upaya menggapai semua cita-citanya.

Edy Zaqeus
Bestseller Writer, Writing Coach, Trainer Littera Institute dan AndaLuarBiasa.com

 

Untuk pertama kalinya sebuah ulasan menarik tentang CALLING yang wajib dibaca untuk mengenali apa sesungguhnya CALLING seseorang.

Haryo Ardito
Die Hard Motivator

Last Updated on Saturday, 18 May 2013 10:20
 

MENGAPA KARYAWAN SULIT YANG SALING MELAYANI ?

Print PDF

MENGAPA KARYAWAN SULIT YANG SALING MELAYANI ?

“Orang Finance memang rese, selalu bilang tidak bisa, padahal ini urgent”

“Payah juga  bagian pengadaan, masa barang yang gua minta dibilang masih kosong padahal gua mintanya udah lama, dia sih gak pernah diomelin customer. Lah gua………”

Seberapa sering kita mendengar karyawan mengeluhkan teman-teman sekantornya? Mereka sering makan siang bersama, tapi kalau soal kerjaan saling menyalahkan. Setiap bagian merasa diri lebih penting dan bagian lain tidak memahami sulitnya pekerjaan mereka. Hal tersebut di atas bukan hanya terjadi pada karyawan antarbagian, tapi juga termasuk karyawan yang berada di bagian yang sama. Suasana kerja menjadi tidak menyenangkan dan atasan pun direpotkan dengan hal-hal nonteknis. Waktu bekerja yang seharusnya digunakan untuk memikirkan pekerjaan tersita untuk menyelesaikan masalah-masalah komunikasi sehingga produktivitas menurun.

Mengapa hal tersebut dapat terjadi? Mengapa karyawan cenderung saling menganggap diri penting dan menyalahkan rekan sekerjanya?

Sifat dasar manusia ingin dihargai. Setiap orang membangun harga dirinya dengan beragam pondasi.  Ada yang membangun harga dirinya secara ekstrinsik, yaitu berdasarkan pengakuan orang lain, baik atasan, rekan sekerja, dan bawahan. Karena kondisi eksternal sering berubah, maka harga diri seseorang yang dilandaskan atas sumber eksternal akan bersifat labil. Karena itu, ia akan merasa dirinya terancam apabila orang-orang di sekitarnya menyalahkan dirinya sehingga secara otomatis ia akan membela dirinya agar merasa aman.

Sebaliknya, ada orang yang membangun harga dirinya secara intrinsik, yaitu apa yang pada dasarnya dimiliki oleh dirinya. Apa yang dimiliki oleh manusia di dunia ini? Tidak ada satu pun yang dimiliki, karena semua adalah titipan Tuhan. Satu-satunya yang dimiliki adalah Tuhan Sang Pencipta itu sendiri. Artinya,harga dirinya didasarkan atas penilaian Tuhan. Jika Tuhan menghargai dirinya apa adanya, maka ia pun akan mampu untuk menghargai dirinya sendiri dengan baik.  Karena itu, ia tidak mudah merasa terancam saat ia disalahkan oleh orang-orang di sekitarnya dan tidak mudah menyalahkan orang lain.

Bagaimana ciri-ciri orang yang mampu menghargai dirinya secara benar?

  1. Orang yang sudah mampu menghargai diri sendiri akan mampu untuk menghargai orang lain. Ia akan menghargai setiap orang bukan dari atribut yang dimilikinya, tapi menghargai sebagaimana Sang Pencipta menghargai semua ciptaan.
  2. Seseorang yang dapat menghargai orang lain akan melayani orang lain dengan tulus. Melayani  muncul dari dalam diri karena menghargai orang lain.

Bagaimana dengan karyawan Anda? Jika mereka sulit melayani satu sama lain, maka mungkin Anda harus menolong mereka untuk menghargai diri sendiri terlebih dahulu. Bantulah mereka untuk memiliki harga diri yang sejati, maka niscaya mereka akan mau dan mampu untuk melayani dengan tul

 

INTEGRITAS PELAYANAN

Print PDF

INTEGRITAS PELAYANAN


Seorang pramugari membangunkan penumpang di belakang saya dengan mengatakan permisi pak beberapa kali. Suara pramugari cukup lantang sehingga cukup mengganggu. Namun saya berpikir, mengapa sang pramugari membangunkan penumpang yang tertidur? Bukankah jika sang penumpang tidak dilayani karena ybs tertidur, tentu bukanlah salah pramugari?

Saya kembali menyadari bahwa melayani adalah melakukan kewajiban kita dan memberikan hak orang lain, meskipun dalam situasi yang tidak tepat. Tugas kita adalah menawarkan dan membiarkan pelanggan yang memutuskan mau menerima pelayanan kita atau tidak.Terkadang yang terjadi adalah sebaliknya. Jika tidak diminta, kita pura-pura tidak tahu dan mengambil kesempatan untuk tidak melayani. Sebenarnya memang tidak ada yang dirugikan. Pelanggan tidak tahu dan kita tidak membohongi pelanggan. Yang terjadi hanya: pelanggan tidak meminta dan saya tidak menawarkan.

Inilah integritas sebuah pelayanan. Dalam melayani butuh keinginan yang kuat untuk menuntaskan tugas kita. Walaupun orang lain tidak tahu, namun karena saya tahu, maka saya harus menawarkannya. Saya memilih melakukannya karena saya melakukan apa yang seharusnya dilakukan, meskipun orang lain tidak mengetahuinya.

Integritas pelayanan akan mendorong seseorang mampu memberikan pelayanan meskipun tidak dimonitor atau tidak ada reward dari perusahaaan atau pengakuan dari pelanggan. Saya melakukannya bukan karena pelanggamn sudah tahu apa yang seharusnya saya lakukan untuk mereka. Akan tetapi, saya melayani karena sudah merupakan kebutuhan dasar jiwa saya. Saya tidak akan tenang jika saya tidak melayani, karena melayani adalah panggilan di dalam pekerjaan saya.

Sudahkah Anda melayani dengan integritas?

 

KALAU BISA DIPERSULIT, MENGAPA DIPERMUDAH?

Print PDF

KALAU BISA DIPERSULIT, MENGAPA DIPERMUDAH?

Seberapa Anda sering mendengar kalimat di atas?

Kalimat yang mengisyaratkan bahwa mempersulit orang lain untuk mendapatkan sesuatu adalah merupakan sebuah hobi. Bayangkan jika hobi karyawan Anda adalah mempersulit orang lain, bagaimana nasib perusahaan Anda?

Melayani artinya mempermudah pelanggan. Pelanggan ingin dipermudah dalam mengakses atau mendapatkan apa yang dibutuhkan seperti misalnya informasi. Seberapa sering Anda ke toko swalayan dan Anda kesulitan mengecek harga barang yang Anda inginkan? Anda bingung karena harga tidak tertera di rak atau harga yang tertera di rak tidak jelas. Akibatnya, Anda harus mencari-cari pegawai toko swalayan untuk mendapatkan informasi harga. Tentu pengalaman yang sangat tidak menyenangkan.  Apalagi jika harga di kasir lebih mahal dibandingkan dengan harga yang tertera di rak.

Ada beberapa pola pikir yang salah pada karyawan Anda yang hobi mempersulit pelanggan:

  1. Mereka berpikir bahwa pelanggan lah yang membutuhkan mereka sehingga mereka yakin bahwa pelanggan akan rela untuk ‘direpotkan’. Karyawan seperti ini belum memahami bahwa melayani merupakan sebuah ibadah. Mempermudah orang lain berarti Anda bersedia untuk repot demi orang lain, bukan sebaliknya, mempersulit orang lain agar Anda mudah.
  2. Mereka berpikir bahwa perkembangan bisnis hanya ditentukan oleh kualitas produk. Perusahaan akan baik-baik saja sekalipun harus kehilangan pelanggan. Toh nanti pelanggan akan datang sendiri jika mereka membutuhkan produk.
  3. Mereka berpikir bahwa melayani adalah sebuah tugas yang merepotkan sehingga seharusnya diberikan reward. Mereka mempersulit pelanggan dengan motif agar diberikan reward.

Pola pikir yang salah sangat mempengaruhi keyakinan dan perilaku melayani. Karena itu, pola pikir ini dapat diubah melalui budaya melayani yang ada di dalam perusahaan Anda. Budaya perusahaan akan ‘mendorong’ dan ‘menarik’ setiap karyawan untuk melayani. Melayani bukan untuk mendapatkan reward, namun justru sebaliknya. Melayani merupakan sebuah perilaku dasar yang harus dilakukan, jika tidak dilakukan karyawan akan mendapatkan punishment. Melayani syarat utama dalam penerimaan karyawan baru sehingga orang-orang yang tidak bersedia melayani pelanggan tidak ‘layak’ untuk bergabung dengan perusahaan.

Sudahkah perusahaan Anda memiliki budaya melayani?

 

 


Page 1 of 4