You are here:   Home ARTICLE Apakah Bos Benar-benar Mengasihi Saya?

Apakah Bos Benar-benar Mengasihi Saya?

Print PDF

APAKAH BOS BENAR-BENAR MENGASIHI SAYA?

 

"Kamu sih enak, punya bawahan yang bagus."

"Saya menyerah, anak buah saya tidak mau berubah."

 

Banyak pemimpin mengeluh anak buahnya sulit sekali diajak untuk berubah. Semua hal sudah dilakukan, mulai dari training, coaching, counseling, reward, punishment, namun karyawan tetap saja tidak berubah. Rasa-rasanya sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa.

Kalau pun ada karyawan yang berubah, hanya sesaat saja.

 

Ketika saya bekerja sebagai HRD, salah satu tugas saya adalah membina dan 'membinasakan' karyawan. Banyak atasan yang berharap anak buah mereka adalah karyawan yang baik dan dapat bekerja sesuai dengan harapan perusahaan dengan sendirinya. Kenyataannya, banyak karyawan yang sebenarnya berpotensi tapi tidak mampu mengaktualisasikan potensinya tersebut dengan maksimal karena beragam kendala.

 

Jika Anda ingin menolong anak buah untuk berubah, maka pertanyaan mendasar untuk Anda sebagai atasan, apakah Anda sungguh-sungguh mengasihi bawahan Anda? Karena kasih merupakan modal dasar untuk mengubah orang lain. Mengasihi berarti benar-benar menerima sepenuhnya. Bukan berarti Anda setuju dengan kesalahan maupun kelemahan mereka. Manusia butuh untuk diterima apa adanya sehingga muncul rasa aman dan percaya sehingga dapat melihat diri sendiri dengan benar. Seperti seorang anak yang diterima apa adanya oleh orang tuanya akan memiliki self esteem yang tinggi.

 

Setelah anak buah merasa nyaman dan percaya bahwa Anda mengasihi mereka, maka Anda akan lebih mudah menimbulkan self awareness dengan metode coaching dan counseling. Tidak akan benteng atau penolakan dari mereka ketika Anda mencoba menggali dan mengajak untuk mengoreksi diri mereka sendiri. Anda akan memiliki kesabaran melihat mereka berproses.

 

Sampai kapan Anda harus bersabar jika anak buah tidak juga sadar diri dan berubah? Jika Anda benar-benar mengasihi mereka, maka Anda akan terus memberikan kesempatan dan mendorong mereka untuk berubah sampai perubahan itu terjadi. Bahkan, ketika anak buah Anda sudah tidak bekerja di perusahaan yang sama, Anda tidak akan berhenti mengasihi.

 

Mungkin saat ini anak buah Anda belum merasakan kasih Anda sebagai sesama manusia, bukan hanya atasan dan bawahan. Kasih yang akan membuat Anda mampu terus melakukan apa yang sedang Anda lakukan, meskipun terkadang jalan kelihatan buntu dan tidak ada harapan. Kasih yang akan membuat Anda mengingat mereka di dalam doa-doa Anda.

 

Selamat mengasihi anak buah Anda seperti Anda mengasihi sesama manusia dan Anda akan melihat perubahan itu terjadi.